Review

DUCATI: Dari Pemancar Radio sampai Moto GP

Ducati bukan Cuma sekedar kuda besi dengan warna merah menyala yang selalu menjadi ciri khasnya, namun lebih dari itu… Menunggangi Ducati tentu memunculkan sensasi tersendiri, suara raungan mesin dengan sistem desmodromic berpadu torsi liar membuat para speed lover terbawa mimpi untuk bisa menjinakkan moge asal negeri pizza ini.

Cerita keluarga DUCATI berawal di Bologna – Italia, perusahaan milik keluarga ini ternyata membangun bisnisnya berawal dari usaha suplai pemancar radio… Suatu hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Namun kisah tentang usaha pemancar radio ini tidak bertahan lama, karena pada tahun 1944 terjadi Perang Dunia ke-2 yang sudah pasti berdampak pada usaha keluarga Ducati.

Namun bukan businessman namanya kalo mudah menyerah terhadap keadaan… Karena 2 (dua) tahun kemudian setelah itu, bertepatan dengan ‘Milan Fair’, Ducati Brothers mencoba beralih pada produk lain, dan kebetulan salah satu rekannya, yaitu Cucciolo langsung memperkenalkan mesin miniatur untuk motor. Langsung aja Ducati family ini kesengsem sama industri otomotif roda dua, hal ini dibuktikan dengan merancang motor Cruiser berkapasitas 175 cc dengan transmisi otomatis pada tahun 1952.

Sukses dengan mesin Cruiser 175 cc yang diterima pasar, membuka peluang baru untuk melahirkan produk selanjutnya. Setahun kemudian Ducati memberanikan diri untuk membuat motor berkapasitas 98 cc yang hemat bahan bakar dan tenaga. Dari sinilah asal-muasalnya pengembangan mesin berkapasitas 125 cc.

Pada tahun 1954 Fabio Taglioni seorang insinyur mesin jenius bergabung dan membawa konsep konstruksi mesin terbaru yang mempunyai semburan tenaga lebih besar, belakangan konstruksi mesin ini dikenal dengan nama ‘Desmodromic’. Waktu riset dan development selama dua tahun itu berhasil diwujudkan oleh Taglioni untuk menciptakan dapur pacu four stroke yang diberi nama Tourist 174 dan Tourist 174 Special, dapur pacu rancangan Taglioni ini sanggup menembus angka 135 km/jam, ini adalah catatan tercepat kala itu.

Ducati sangat terkenal dengan mesin bersistem Desmodromic-nya, bahkan nama desmo seperti tak bisa dilepaskan dari Ducati, tercatat serangkaian sepeda motor prototipe yang dikembangkan oleh Ducati dalam Moto GP dibuat dengan menggandengkan nama Desmosedici setelah nama Ducati. Ducati Desmosedici RR (jenis untuk penggunaan jalan raya) pernah diproduksi pada tahun 2006 sebanyak  hanya 1500 unit saja diseluruh dunia, bahkan 500 unit untuk pasar Amerika Serikat langsung habis dalam tempo 5 jam saja… (ya iyalah… waktu itu belum krisis disono… kalo skrg belum tentu kali yach…)

Ducati Desmosedici ini memang dahsyat banget… Stoner pernah betot gas ampe tembus 347 km/jam di trek lurus… Wuiiihhh… Jadi inget iklan motor dalam negeri yang bikin rubuh jembatan… Hehehe… Kalo pake Ducati yang rubuh apaan yach…

Desmodromic atau dikenal juga dengan Desmoquattro adalah sistem valve yang unik, sistem ini dibuat tidak menggunakan spring/per dalam mekanisme buka-tutup katupnya… Kok bisa, tanpa per… Katup masih bisa terbuka, padahal terbukanya katup karena mendapatkan dorongan dari tonjolan cam, lalu pertanyaannya adalah bagaimana mungkin katup bisa menutup tanpa adanya per ???

Disinilah uniknya, ternyata mekanisme buka-tutup katup dengan sistem spring/per dianggap kurang akurat dalam mengatur buka-tutup katup. Karena sistem buka-tutup katup bersistem per hanya efektif pada putaran normal. Tapi untuk mesin yang di-betot dalam putaran 16.000 rpm lebih ternyata sistem Desmodromic/Desmoquattro yang  lebih akurat untuk diandalkan dalam sistem buka-tutup katup. Diantara pendapat yang mengatakan bahwa sistem ini lebih efisien adalah kutipan berikut:

“Among the advantages of a desmo engine are that there are no heavy power robbing springs used to close the valves, better protection for the engine if it is over revved, and better performance and/or overall efficiency”

Berikut beberapa tampilan gambar dapur pacu… Perbandingan sistem pneumatic… Dan sistem Desmoquattro… Cekidaut bro…

Source: dikumpulkan dari sono-sini dan ditulis ulang oleh gue…

13 thoughts on “DUCATI: Dari Pemancar Radio sampai Moto GP

  1. Yang pasti motornya pake pertamax..
    Hehe.,nice post.. flash back Ducati negh..
    Wah, berarti yg sebenernya paling berjasa Cucciolo ya Mas.. Kalo nggak ada doi blm tentu ducati kayak sekarang ini😉

    • @ Kentaro: Dulu sekitar tahun 1960an Ducati pernah ikut balapan dengan motor 2 tak berkapasitas 250 cc. Bahkan sempat megang podium terus loch… Setelah itu, Ducati stop berkecimpung di arena Balap.

      Barulah Pada tanggal 23 april 1972, sang mekanik Taglioni menelurkan senjata baru desmodromic twin cylinder 750 cc dan kembali ikut ajang balapan di 4 tak. gitu bro…

  2. Berati Ducati Camnya ada tonjolan buat buka ama tonjolan buat nutup klep gitu ya
    Kalo SOHC bearti total cam-nya ada 4
    wah jenius sekali itu Fabio Taglioni, padahal tahun 1954
    Sayang Ducati gak ngeluarin motor mesin kecil

  3. @ Bro M.R. kalo cc kecil Ducati pernah buat Ducati Enduro 125 cc bermesin 2 tak bro… berikut info spek-nya:

    Model: Ducati 125 Enduro
    Year: 1978
    Category: Enduro / offroad
    Displacement: 124.00 ccm (7.57 cubic inches)
    Engine type: Single cylinder
    Stroke: 2
    Power: 17.00 HP (12.4 kW)) @ 8500 RPM
    Cooling system: Air
    Gearbox: 6-speed

    Transmission type
    final drive: Chain

    Chassis and dimensions
    Front tyre dimensions: 3.00-21
    Rear tyre dimensions: 3.75-18
    Front brakes: Expanding brake
    Rear brakes: Expanding brake

    Speed and acceleration
    Top speed: 110.0 km/h (68.4 mph)

    Other specifications
    Fuel capacity: 7.00 litres (1.85 gallons)

  4. pesan dari milis MotoGP Indonesia, secara gue post juga disana hehehe :

    ============
    Ko gak ada cerita ttg moped ducati culun yg cc nya paling2x 49 yah…itu jg buatan th 50 an kalau gak salah..
    ============

    piss dy …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s