Review

Honda: “Kesuksesan sang Pendiri & Pabrikan” [Bagian-1]

Siapa tak kenal Honda..??? Bahkan orang jawa memasukkan kosakata ‘Honda’ dalam perbendaharaan katanya… Mbah saya yang tinggal di Wonogiri pernah bilang: “numpak honda ae toh le…” Katanya… Hehehe, dahsyat memang kekuatan strategi pencitraan yang telah dilancarkan oleh ATPM Honda di Indonesia, bagaimana tidak lah wong PT. AHM sudah bercokol di-negeri ini sejak 11 Juni 1971 dengan nama awal PT. Federal Motor, yang sahamnya secara mayoritas dimiliki oleh PT Astra International. Saat itu, PT Federal Motor hanya merakit, sedangkan komponennya diimpor dari Jepang dalam bentuk CKD (completely knock down). Namun kisah sukses Honda di Indonesia tidaklah lengkap kalau sebelumnya kita tidak mengetahui bagaimana sejarah perjuangan sang pendirinya…??? Berikut adalah catatan yang saya tulis kembali setelah membuka buku biografi unik yang bercerita tentang sosok pendiri Honda. Buat temans yang sudah baca ya… sekaligus mengingatkan lagi lah… Monggo silahkan disimak yach…  :D

Soichiro Honda lahir tanggal 17 November 1906 di Iwatagun (kini Tenryu City) yang terpencil di Shizuoka prefecture. Daerah Chubu di antara Tokyo, Kyoto, dan Nara di Pulau Honshu yang awalnya penuh tanaman teh yang rapi, yang disela-selanya ditanami arbei yang lezat. Namun kini daerah kelahiran Honda sudah ditelan Hamamatsu yaitu kota terbesar di provinsi itu.

Ayahnya bernama Gihei Honda seorang tukang besi yang beralih menjadi pengusaha bengkel sepeda, sedangkan ibunya bernama Mika, Soichiro anak sulung dari sembilan bersaudara, namun hanya empat yang berhasil mencapai umur dewasa. Yang lain meninggal semasa kanak-kanak akibat kekurangan obat dan juga akibat lingkungan yang kumuh.

Sebelum masuk sekolah pun Soichiro sudah senang, membantu ayahnya di bengkel besi. Ia juga sangat terpesona melihat dan mendengar dengum mesin penggiling padi yang terletak beberapa kilometer dari desanya.

Di sekolah prestasinya rendah. Honda mengaku ulangan-ulangannya buruk. Ia tidak suka membaca, sedangkan mengarang dirasakannya sangat sulit. Tidak jarang ia bolos. “Sampai sekarang pun saya lebih efisien belajar dari TV daripada dari membaca. Kalau saya membaca, tidak ada yang menempel di otak,” katanya.

Soichiro Honda yang saat itu masih berusia 16 tahun, akhirnya tak mau melanjutkan sekolah. Karena ia menganggap sekolah saat itu hanya membuang waktu. Ia hanya ingin mendalami tentang mesin mobil. Akhirnya, ayahnya yang mengerti betul tentang ambisinya mengenalkan kepada seorang teman di Tokyo bernama Kashiwabara, seorang direktur bengkel mobil bernama ‘Art’. Akhirnya pada bulan Maret 1922, Soichiro diantar ayahnya ke Tokyo untuk bekerja disana. Tapi bukan sebagai teknisi atau yang berhubungan dengan mesin, ia hanya sebagai pengasuh bayi. Bayi yang ia asuh adalah anak dari direktur bengkel Art. Kebayang gak sih… SiHonda ternyata mengawali karirnya dari seorang baby sitter…  :D

Tapi ternyata dari sanalah pengetahuannya tentang mesin berkembang. Ia mencuri-curi waktu pada saat bengkel tutup untuk sekedar melihat dan menganalisa mesin mobil. Apalagi ketika ia menemukan sebuah buku di perpustakaan, lalu ia mengumpulkan uang gajinya selama bekerja sebagai pengasuh bayi hanya untuk menyewa buku tersebut. Nah… Buku yang pertama kali ia baca sat itu adalah Sistem Pembakaran Dalam.

Suatu hari, ketika Soichiro Honda sedang mengepel lantai, majikannya meminta ia untuk membantunya di bengkel, karena hari itu bengkel sedang ramai sekali, hampir semua tekhnisi sibuk melayani pelanggan. Nah disinilah Soichiro Honda menunjukkan keahliannya dalam membetulkan mesin mobil Ford model ‘T’ yang dikeluarkan pada tahun 1908. Semua pengetahuan itu ia dapati dari mencuri-curi waktu untuk sekedar mengintip mesin mobil dan ilmu yang ia dapat dari buku yang ia sewa sebelumnya, dari sinilah ia akhirnya mendapatkan pengakuan dari teknisi lain.

Suatu ketika pada usia 18 tahun, ia diminta pergi ke kota Marioka untuk membetulkan mesin mobil. Saat dijemput, sang penjemputnya heran… Lantas bertanya “Tuan bengkel Art-nya sedang ke toilet ya?” tanya salah satu dari dua orang penjemput itu, karena sangat tidak percaya yang ia jemput hanyalah anak muda berumur belasan tahun. Namun dengan perasaan percaya diri ia menjawab: “Sayalah yang anda maksud, terima kasih sudah menjemput saya” jawab Soichiro santai.

Atas prestasinya tersebut, pada usia 22 tahun ia sudah menjadi kepala bengkel ‘Art’, dan dipercaya untuk membuka cabang di kota Hamamatsu. (bersambung…)

14 thoughts on “Honda: “Kesuksesan sang Pendiri & Pabrikan” [Bagian-1]

    • @ Adul: Walah… ora ngerti aku bro… lah wong aku durung lahir toh… hehehe… btw Sejarah pertamina memang panjang loch… Sejak Masa 1871 – 1885: Masa Awal Pencarian dan Penemuan Minyak di Indonesia; terus Masa 1885 – 1945: Masa Eksploitasi Minyak oleh Penjajah; lalu Masa 1945 – 1957: Masa Perjuangan Minyak Pra-Pertamina; Lalu pada tahun 1957 barulah Pemerintah RI saat itu mengambil alih semua perusahaan Minyak yang dikelola Belanda di Indonesia (Kecuali SHELL karena kepemilikannya bersifat internasional). dan seterusnya… Tentang pertamax aku gak tahu pasti munculnya kapan..? Tapi kalo ngeliat data sejarahnya sih, gak memungkinkan pertamax hadir pada tahun 1971 bro…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s