Review

Honda: “Kesuksesan Sang Pendiri & Pabrikan [Bagian-3]

Pagi harinya ia kuliah lalu siang harinya ia ke bengkel dan langsung mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Tapi setelah hampir dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya merasakan kejenuhan, hal ini tercatat dalam pernyataannya yang terlampau berani menurut gue, Honda mengatakan bahwa: “Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya” ujarnya. Kebayang gak sih, mukanya tuh rektor kaya apa… Xixixi…

Kepada Rektornya, ia mengatakan “Bahwa yang dimaksudkan adalah kuliah bukan mencari ijasah. Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah pengetahuan..! Bukan yang lainnya…!” Penjelasan ini justru dianggap penghinaan… Situasi tidak kondusif itulah yang pada akhirnya membuat Honda tidak melanjutkan kuliah…

Singkat cerita setelah 3 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 20 November 1937 akhirnya Soichiro Honda berhasil membuat Ring Piston buatannya… Setahun kemudian pada tahun 1938 Honda mendirikan pabrik pembuatan ring piston bernama Tokai Seiki. Sedangkan bengkel yang ia kepalai diserahkan kepada anak buahnya untuk dikelola… Bersamaan dengan itu sepertinya nasib Honda akan cerah dengan cepat, karena pihak Toyota menerima Ring Piston buatannya dan mulai berproduksi secara resmi pada tahun 1941. Namun tidak lama bisnis kerjasama itu berjalan terjadilah perang dunia kedua yang membuat kontrak-kontraknya macet ditengah jalan…

Kisah berlanjut pada tahun 1945, tepatnya setelah perang dunia ke-2, Jepang menjadi negara pecundang karena kalah perang. Pada masa setelah perang benda-benda masih sangat langka, justru industri tekstil berkembang sangat pesat saat itu. Kabarnya, orang-orang yang mempunyai mesin tenun, sekali menggerakkan mesinnya, ia bisa mendapatkan 10 ribu yen. Melihat peluang itu Soichiro berfikir bagaimana membuat mesin tenun yang lebih canggih dari yang ada pada saat itu. Lalu Honda mulai berusaha untuk mendirikan pabrik pembuatan mesin tenun, walaupun pada akhirnya harus kembali terhenti karena kekurangan modal…

“We only have one future, and it will be made of our dreams, if we have the courage to challenge convention”

(Kami hanya memiliki satu masa depan, dan itu akan menjadi terbuat dari impian kita, jika kita memiliki keberanian untuk menantang kebiasaan, Soichiro Honda).

Namun, semangat Honda tidak pernah pupus..! Ia pun segera mengumpulkan para karyawannya kembali. Lalu mereka diperintahkan untuk mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, barang bekas itu ia gunakan sebagai bahan alternatif mendirikan pabrik. Setelah bangunan pabriknya hampir jadi, tiba-tiba tanpa diduga, gempa bumi dahsyat menghantam negeri sakura dan lagi-lagi kembali menghancurkan pabriknya, melihat kondisi yang serba sulit itu membuat Honda mengambil keputusan untuk menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain…

Diantara beberapa usaha lain yang diupayakan oleh Honda adalah berawal dari seorang teman lama yang menawarkan mesin pemancar radio bekas kegiatan perang berjumlah sekitar 500an buah. Dan Soichiro diminta untuk memanfaatkan mesin pemancar radio tersebut. Setelah melihat sepeda, gagasan ia pun muncul…!!! Honda langsung berniat membuat sepeda yang ditempelkan oleh motor penggerak dengan mesin pemancar radio. Cara mengendarai sepeda motor saat itu juga sangat berlainan dengan yang ada sekarang. Pertama-tama mesih harus dipanaskan dengan api, dan digenjot minimal 30 menit, baru mesin bisa digunakan. Tapi tetap saja laku keras, dan kapasitas produksi saat itu 1 unit lebih dalam 1 hari. Dalam setahun saja, 500 buah pemancar radio habis.

“Real happiness lies in the completion of work using your own brains and skills”

(Kebahagiaan sejati terletak pada penyelesaian pekerjaan dengan menggunakan otak Anda sendiri dan keterampilan, Soichiro Honda)

Dengan prestasi tersebut, Soichiro terus mengembangkan mesin sepeda motor, dan berhasil menciptakan sepeda motor yang dinamakan Dream D, setelah membuat mesin A, B, dan C. Motor buatan Soichiro ini adalah mesin 2 tak dengan 98 cc dan kecepatan maksimum hanya 50 km/jam.

Bersamaan dengan akan dipasarkannya Dream D, seorang marketer hebat bernama Fujisawa ikut menggabungkan diri dengan Soichiro dan membangun pabrik pembuatan sepeda motor. Kemudian selanjutnya, kehadiran Fujisawa membawa perubahan besar terhadap perusahaan bernama Honda.

Sebelum Dream D dipasarkan, Fujisawa menguji coba motor tersebut kepada masyarakat. Dan diketahui, karena Dream D adalah motor 2 tak, maka kebisingan yang dibuat menjadi masalah. Dan dengan demikian, Fujisawa memaksa Soichiro untuk membuat mesin 4 tak yang miskin suara kebisingan. Akhirnya mesin 4 tak dibuat dan berhasil menjadi nomor satu di Jepang.

Soichiro Honda mengatakan: Success is 99% failure”, well… kebanyakan orang melihat kesuksesan saya padahal itu hanya satu persen keberhasilan. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya, tuturnya. Maksud pernyataan beliau adalah, jika anda mengalami kegagalan, maka segera mulailah untuk bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan berusahalah untuk mewujudkan mimpi itu untuk menjadi kenyataan.

So… Insight yang bisa kita ambil sebagai sebuah kesimpulan adalah: Bahwa kesuksesan itu dapat diraih oleh siapa saja, bahkan hanya dengan modal seadanya, tidak pintar disekolah, ataupun berasal dari keluarga kaya…! Jadi tinggalkan segala keluh kesah, sikap putus asa, apalagi bersusah hati merenungi nasib dan kegagalan… Tetap semangat dan teruslah berusaha… Ayo…!!!

9 thoughts on “Honda: “Kesuksesan Sang Pendiri & Pabrikan [Bagian-3]

  1. karena soicchiro berusaha keras meresa terhina kepada rektor nya , kulinyah bukan menjari ijah kulinyah melainkan pengetahunan di hina soichiro hakhir nya keluar kali ya mana yg s3 boro rehap ruamh malah seles mentang bisa bego nyipen gak nyambung bego maozin gak nyambung di katain nyipen gak mau yg salah di salahan yg bener salahin salah benerin kali ya

  2. mana yg s1 spd juga kopi mastel beda soichiro berusah kerafitas beda juga drs juga cuma manggut juga lah bisa apa ya mana d3 ke perawatan boro nya ruamsik malah pakai motor harus ya ngaca di pikir dulu ya baru omong nagaca s3 juga ruamh juga bocor ya banjir lagi ide gak punya kerafitas gak ada nagnbil orang kopi mastel lah nya s2 juga kalau gereja gak rehab rumah juga gak bisa kali ya harus ya mereka ngaca lah ya baru pikir dulu nya s2 gebo s3 lemot ya lah iya dong d3 bidan juga gak ada kerafitas boro kerafitas ide nya bisa ngomonin orang lah gosip kali ya ya

  3. Wah bagus nih,, kalo boleh tau.. apa ya identitas bukunya? Ky penulisnya gitu siapa? :v

    Pls jawab penting bgt nih xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s