Honda: “Kesuksesan sang Pendiri & Pabrikan” [Bagian-1]

Posted in AHM, Soichiro Honda on 08/02/2010 by Ardy IBBC

Siapa tak kenal Honda..??? Bahkan orang jawa memasukkan kosakata ‘Honda’ dalam perbendaharaan katanya… Mbah saya yang tinggal di Wonogiri pernah bilang: “numpak honda ae toh le…” Katanya… Hehehe, dahsyat memang kekuatan strategi pencitraan yang telah dilancarkan oleh ATPM Honda di Indonesia, bagaimana tidak lah wong PT. AHM sudah bercokol di-negeri ini sejak 11 Juni 1971 dengan nama awal PT. Federal Motor, yang sahamnya secara mayoritas dimiliki oleh PT Astra International. Saat itu, PT Federal Motor hanya merakit, sedangkan komponennya diimpor dari Jepang dalam bentuk CKD (completely knock down). Namun kisah sukses Honda di Indonesia tidaklah lengkap kalau sebelumnya kita tidak mengetahui bagaimana sejarah perjuangan sang pendirinya…??? Berikut adalah catatan yang saya tulis kembali setelah membuka buku biografi unik yang bercerita tentang sosok pendiri Honda. Buat temans yang sudah baca ya… sekaligus mengingatkan lagi lah… Monggo silahkan disimak yach…  :D

Soichiro Honda lahir tanggal 17 November 1906 di Iwatagun (kini Tenryu City) yang terpencil di Shizuoka prefecture. Daerah Chubu di antara Tokyo, Kyoto, dan Nara di Pulau Honshu yang awalnya penuh tanaman teh yang rapi, yang disela-selanya ditanami arbei yang lezat. Namun kini daerah kelahiran Honda sudah ditelan Hamamatsu yaitu kota terbesar di provinsi itu.

Ayahnya bernama Gihei Honda seorang tukang besi yang beralih menjadi pengusaha bengkel sepeda, sedangkan ibunya bernama Mika, Soichiro anak sulung dari sembilan bersaudara, namun hanya empat yang berhasil mencapai umur dewasa. Yang lain meninggal semasa kanak-kanak akibat kekurangan obat dan juga akibat lingkungan yang kumuh.

Sebelum masuk sekolah pun Soichiro sudah senang, membantu ayahnya di bengkel besi. Ia juga sangat terpesona melihat dan mendengar dengum mesin penggiling padi yang terletak beberapa kilometer dari desanya.

Di sekolah prestasinya rendah. Honda mengaku ulangan-ulangannya buruk. Ia tidak suka membaca, sedangkan mengarang dirasakannya sangat sulit. Tidak jarang ia bolos. “Sampai sekarang pun saya lebih efisien belajar dari TV daripada dari membaca. Kalau saya membaca, tidak ada yang menempel di otak,” katanya.

Soichiro Honda yang saat itu masih berusia 16 tahun, akhirnya tak mau melanjutkan sekolah. Karena ia menganggap sekolah saat itu hanya membuang waktu. Ia hanya ingin mendalami tentang mesin mobil. Akhirnya, ayahnya yang mengerti betul tentang ambisinya mengenalkan kepada seorang teman di Tokyo bernama Kashiwabara, seorang direktur bengkel mobil bernama ‘Art’. Akhirnya pada bulan Maret 1922, Soichiro diantar ayahnya ke Tokyo untuk bekerja disana. Tapi bukan sebagai teknisi atau yang berhubungan dengan mesin, ia hanya sebagai pengasuh bayi. Bayi yang ia asuh adalah anak dari direktur bengkel Art. Kebayang gak sih… SiHonda ternyata mengawali karirnya dari seorang baby sitter…  :D

Tapi ternyata dari sanalah pengetahuannya tentang mesin berkembang. Ia mencuri-curi waktu pada saat bengkel tutup untuk sekedar melihat dan menganalisa mesin mobil. Apalagi ketika ia menemukan sebuah buku di perpustakaan, lalu ia mengumpulkan uang gajinya selama bekerja sebagai pengasuh bayi hanya untuk menyewa buku tersebut. Nah… Buku yang pertama kali ia baca sat itu adalah Sistem Pembakaran Dalam.

Suatu hari, ketika Soichiro Honda sedang mengepel lantai, majikannya meminta ia untuk membantunya di bengkel, karena hari itu bengkel sedang ramai sekali, hampir semua tekhnisi sibuk melayani pelanggan. Nah disinilah Soichiro Honda menunjukkan keahliannya dalam membetulkan mesin mobil Ford model ‘T’ yang dikeluarkan pada tahun 1908. Semua pengetahuan itu ia dapati dari mencuri-curi waktu untuk sekedar mengintip mesin mobil dan ilmu yang ia dapat dari buku yang ia sewa sebelumnya, dari sinilah ia akhirnya mendapatkan pengakuan dari teknisi lain.

Suatu ketika pada usia 18 tahun, ia diminta pergi ke kota Marioka untuk membetulkan mesin mobil. Saat dijemput, sang penjemputnya heran… Lantas bertanya “Tuan bengkel Art-nya sedang ke toilet ya?” tanya salah satu dari dua orang penjemput itu, karena sangat tidak percaya yang ia jemput hanyalah anak muda berumur belasan tahun. Namun dengan perasaan percaya diri ia menjawab: “Sayalah yang anda maksud, terima kasih sudah menjemput saya” jawab Soichiro santai.

Atas prestasinya tersebut, pada usia 22 tahun ia sudah menjadi kepala bengkel ‘Art’, dan dipercaya untuk membuka cabang di kota Hamamatsu. (bersambung…)

Fabio Taglioni sang penemu Desmodromic-Ducati

Posted in DUCATI, Desmodromic, Fabio Taglioni on 28/01/2010 by Ardy IBBC

Masih seputar Ducati nih bro… Sejarah panjang perjalanan pabrikan asal Bologna – Italia ini bisa memang menarik untuk ditelisik lebih jauh… Bagi mereka yang punya keinginan kuat untuk membangun perusahaan, sepertinya bisa mengambil insight dari jatuh bangunnya perusahaan Ducati brothers ini, tapi pada artikel ini gue mencoba memotret gagasan sang penemu Desmodromic yang fenomenal… Yup, siapa lagi kalo bukan Fabio Taglioni…

Fabio Taglioni terlahir di Lugo, Romagna – Italia pada 10 September 1920 dan meninggal di Bologna pada tahun 2001. Taglioni adalah seorang insinyur Italia yang juga menjadi Kepala perancang dan Direktur Teknis Ducati dari tahun 1954 sampai 1989. Gagasannya yang fenomenal saat itu ketika dia memikirkan sebuah rancangan sebuah mesin dengan kapasitas besar tetapi tidak dengan satu silinder. Berikut kutipan gagasan Taglioni:

“… When Fabio Taglioni wanted to design a big capacity engine, he knew he could not make it single cylinder. But he

decided to design a twin that was as similar to a single as possible. The crankshaft had to be like that of a single, it just

had room for two rods placed side-by-side. All the bottom end was not distinguishable from that of a single except for the two holes for the cylinders. The cylinders were arranged in a “V” but, to allow the best air flow to both cylinders, one was placed horizontally and the other vertically. The angle of the “V” was chosen to be 90°, not only to keep the cylinders apart, but to guarantee the best balance to the engine…”

Kira-kira hasil terjemahan bebasnya begini bro… Si-Taglioni ini menyadari bahwa mesin satu silinder memiliki keterbatasan. Maka dia memutuskan untuk merancang sebuah mesin dengan konsep kembar tetapi menjadi satu kesatuan mesin yang utuh. Poros mesin dibuatkan sudut “V” secara berdampingan, yang satu vertikal sedangkan yang satunya lagi horisontal. Sudut “V” ditentukan menjadi 90 °, hal ini tidak hanya untuk menjaga silinder tetap terpisah, tapi juga untuk menjamin keseimbangan terbaik pada mesin.

Kenangan ketika meraih kemengangan dengan mesin Desmo Twin bersama Mike Hailwood

Kalo ini Gue lagi bareng Matteo Guerinoni (Pembalap Superbike yang menunggangi Ducati 1198S) dan Matteo sedang bersama dua Putrinya Rosa & Azzura Guerinoni.

DUCATI: Dari Pemancar Radio sampai Moto GP

Posted in Casey Stoner, DUCATI, Desmodromic, Desmosedici, Koboi, Moto GP on 27/01/2010 by Ardy IBBC

Ducati bukan Cuma sekedar kuda besi dengan warna merah menyala yang selalu menjadi ciri khasnya, namun lebih dari itu… Menunggangi Ducati tentu memunculkan sensasi tersendiri, suara raungan mesin dengan sistem desmodromic berpadu torsi liar membuat para speed lover terbawa mimpi untuk bisa menjinakkan moge asal negeri pizza ini.

Cerita keluarga DUCATI berawal di Bologna – Italia, perusahaan milik keluarga ini ternyata membangun bisnisnya berawal dari usaha suplai pemancar radio… Suatu hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Namun kisah tentang usaha pemancar radio ini tidak bertahan lama, karena pada tahun 1944 terjadi Perang Dunia ke-2 yang sudah pasti berdampak pada usaha keluarga Ducati.

Namun bukan businessman namanya kalo mudah menyerah terhadap keadaan… Karena 2 (dua) tahun kemudian setelah itu, bertepatan dengan ‘Milan Fair’, Ducati Brothers mencoba beralih pada produk lain, dan kebetulan salah satu rekannya, yaitu Cucciolo langsung memperkenalkan mesin miniatur untuk motor. Langsung aja Ducati family ini kesengsem sama industri otomotif roda dua, hal ini dibuktikan dengan merancang motor Cruiser berkapasitas 175 cc dengan transmisi otomatis pada tahun 1952.

Sukses dengan mesin Cruiser 175 cc yang diterima pasar, membuka peluang baru untuk melahirkan produk selanjutnya. Setahun kemudian Ducati memberanikan diri untuk membuat motor berkapasitas 98 cc yang hemat bahan bakar dan tenaga. Dari sinilah asal-muasalnya pengembangan mesin berkapasitas 125 cc.

Pada tahun 1954 Fabio Taglioni seorang insinyur mesin jenius bergabung dan membawa konsep konstruksi mesin terbaru yang mempunyai semburan tenaga lebih besar, belakangan konstruksi mesin ini dikenal dengan nama ‘Desmodromic’. Waktu riset dan development selama dua tahun itu berhasil diwujudkan oleh Taglioni untuk menciptakan dapur pacu four stroke yang diberi nama Tourist 174 dan Tourist 174 Special, dapur pacu rancangan Taglioni ini sanggup menembus angka 135 km/jam, ini adalah catatan tercepat kala itu.

Ducati sangat terkenal dengan mesin bersistem Desmodromic-nya, bahkan nama desmo seperti tak bisa dilepaskan dari Ducati, tercatat serangkaian sepeda motor prototipe yang dikembangkan oleh Ducati dalam Moto GP dibuat dengan menggandengkan nama Desmosedici setelah nama Ducati. Ducati Desmosedici RR (jenis untuk penggunaan jalan raya) pernah diproduksi pada tahun 2006 sebanyak  hanya 1500 unit saja diseluruh dunia, bahkan 500 unit untuk pasar Amerika Serikat langsung habis dalam tempo 5 jam saja… (ya iyalah… waktu itu belum krisis disono… kalo skrg belum tentu kali yach…)

Ducati Desmosedici ini memang dahsyat banget… Stoner pernah betot gas ampe tembus 347 km/jam di trek lurus… Wuiiihhh… Jadi inget iklan motor dalam negeri yang bikin rubuh jembatan… Hehehe… Kalo pake Ducati yang rubuh apaan yach…

Desmodromic atau dikenal juga dengan Desmoquattro adalah sistem valve yang unik, sistem ini dibuat tidak menggunakan spring/per dalam mekanisme buka-tutup katupnya… Kok bisa, tanpa per… Katup masih bisa terbuka, padahal terbukanya katup karena mendapatkan dorongan dari tonjolan cam, lalu pertanyaannya adalah bagaimana mungkin katup bisa menutup tanpa adanya per ???

Disinilah uniknya, ternyata mekanisme buka-tutup katup dengan sistem spring/per dianggap kurang akurat dalam mengatur buka-tutup katup. Karena sistem buka-tutup katup bersistem per hanya efektif pada putaran normal. Tapi untuk mesin yang di-betot dalam putaran 16.000 rpm lebih ternyata sistem Desmodromic/Desmoquattro yang  lebih akurat untuk diandalkan dalam sistem buka-tutup katup. Diantara pendapat yang mengatakan bahwa sistem ini lebih efisien adalah kutipan berikut:

“Among the advantages of a desmo engine are that there are no heavy power robbing springs used to close the valves, better protection for the engine if it is over revved, and better performance and/or overall efficiency”

Berikut beberapa tampilan gambar dapur pacu… Perbandingan sistem pneumatic… Dan sistem Desmoquattro… Cekidaut bro…

Source: dikumpulkan dari sono-sini dan ditulis ulang oleh gue…

Showroom Baru DUCATI INDONESIA…

Posted in DUCATI, Koboi on 25/01/2010 by Ardy IBBC



DUCATI… Ya… Satu kata yang tidak asing bagi kita semua, terutama buat para bikers… Sosok kuda besi serba merah menyala dengan cc besar dan raungan mesin khas ‘Desmodromic’ ini dapat memacu adrenalin secara spontan… Gak percaya..??? Buktikan aja dengan mendatangi langsung lokasi Showroom baru berkonsep one stop service milik Ducati Indonesia. Jika sebelumnya berada di AutoMall, maka kini Ducati hadir di Benkel Night Park Lot 14 SCBD, Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Jakarta.

President Director PT. Supermoto Indonesia, Agustus Sani Nugroho, mengatakan dalam press releasenya bahwa ia membuat konsep baru pada show room-nya. “Dengan konsep one stop service, mulai dari ruang pamer display unit, parts dan aksesori serta servis dalam satu atap, makin memudahkan para Ducatisti dan konsumen Ducati lainnya menikmati layanan fasilitas dari kami. Tentu saja ini bagian dari strategi kami untuk memperluas market Ducati ditahun ini“ ujar Nugroho, sapaan akrabnya.

So, brothers sekalian jika berkesempatan mampir ke showroom Ducati yang memiliki luas sekitar 400 m2 ini jangan lupa bawa laptop & gadget lainnya… Loh kok… Ya dong.. Kan sudah free hot spot… Jadi bisa OL terus… Sip lah…